Hidup di Negeri (1) Orang: Tahun Pertama

Hidupku 5,5 tahun terakhir aku habiskan di Singapura. Negeri yg telah membuat aku jatuh cinta sejak pertama kali berkunjung. Aku melongo kekaguman *kampungan banget ya?* menyaksikan hiruk-pikuk nan tertib di Orchard Road, aku merasa nyaman menaiki kendaraan umum yg bersih & teratur, aku menikmati sekali langkah kaki orang Singapura yg nampak tergesa2 yg bagiku seolah menandakan produktivitas tinggi (bisa aja, padahal mungkin pada kebelet ke toilet ya?), aku merasa sangat sehat berada di megapolitan yg bersih. Ahhh...aku jatuh cinta.

Sedikit flashback, aku pertama kali ke Singapura thn 1997, bertiga dengan A'Bubun, suamiku, dan Dzaky, anak sulungku yg saat itu baru saja berulangtahun ke-3. Setelah menikmati tempat2 wisata & belanja, malam terakhir sebelum meninggalkan Singapura, saat menunggu taxi, aku berbisik ke telinga A'Bubun, "Aa, Wie ingin pindah kesini". Saat itu A'Bubun cuma nyengir, tampangnya persis tampang dia yg sering kegelian mendengar cerita mimpiku yg aneh2 saat tidur (OOT: mimpi anehku yg paling menggelikan adalah makan batagor sambil duduk berdampingan mesra dengan Keanu Reeves. Koq batagor gitu ya?). Rasanya saat itu pindah & bermukim di Singapura adalah mimpi lucu yg sulit terwujud kali ya?

Keinginanku untuk bermukim di Singapura akhirnya hilang bersama realita bahwa aku tinggal di Bandung, suamiku memang kerja di multinasional company, tapi basenya di Indonesia, kebetulan dia ditempatkan di Bandung, kota kami. Walau basenya di Bandung, tapi A'Bubun melanglangbuana terus dan anehnya nggak pernah ditugaskan ke Singapura.
Suatu hari, di penghujung thn 2000, A'Bubun mengajukan rencana boyongan ke negeri orang. Saat itu negara tujuan kami adalah Belanda, tepatnya kota Hilversum. Berbagai hal yg melintas di pikiran ttg Belanda, segala yg positif maupun yg negatif, tapi yg paling menonjol adalah "brrrr...kuat nggak ya nahan dinginnya suhu udara di sana?", mengingat aku alergi udara dingin. Udara dingin bisa membuat badanku bentol2, kalau bahasa kerennya kaligata kali ya? :p Begitu juga Dzaky, udara dingin bisa membuat tenggorokannya dibanjiri lendir sbg reaksi alergis.

Bulan Januari 2001 saat proses kepindahan ke Belanda sudah mencapai 80%, tiba2 A'Bubun yg akhirnya dapat assignment ke Singapura, mendapat tawaran yg sama menariknya seperti di Belanda, tapi kali ini di...Singapura! Tanpa berpikir dua kali, aku langsung minta A'Bubun untuk menerima tawaran itu. Bubye Hilversum! Aku ingat sekali apa komentar A'Bubun saat itu, "ini sih rejekinya Wiwie yg emang ingin tinggal di Singapura.Oke deh, demi istri tercinta...". Suit...suit...uhuy..!

Singkat kata, pertengahan Maret 2001 aku sudah jadi penduduk Singapura, tinggal di flat kawasan Chai Chee. Yang paling menarik dari tempat tinggal kami itu adalah blok apartemen kami tepat bersebelahan dengan kompleks perkantoran dimana kantor A'Bubun adalah salah satu perusahaan yg berkantor disitu, namanya Technopark@Chai Chee. Di seberang kompleks itu ada hawker center, seperti umumnya hawker center di sini, selalu dilengkapi dengan coffee shop, letaknya arah jam 2 dari flatku, jadi kalau aku berdiri di koridor, aku bisa melihat dengan cukup jelas coffee shop itu, bahkan orang2 yg makan disitu. Kalau pagi coffee shop itu dipenuhi dengan orang2 yg sarapan sebelum bekerja di Technopark@Chai Chee, siang dipenuhi dengan orang2 yg makan siang, sore hari juga tetap penuh dengan orang2 yg sama. Lucu campur kasihan sama A'Bubun, kalau dia kebetulan makan siang di coffee shop itu dan kebetulan juga Dzaky yg turun dari bis sekolah melihat, pasti akan memanggil ayahnya dengan teriakan seolah2 kami tinggal di hutan,"Papaaaaap....!" Untungnya teman2 kerja A'Bubun udah maklum, paling2 sedikit ngeledekin.

Ceritanya diperpendek aja kali ya... *mulai kumat penyakit males nulisnya* Yg jelas gambaran tahun pertamaku disini adalah sbb:
1. Semangat tinggal di Singapura ternyata nggak membuat aku lupa kampung halaman, aku selalu homesick, jadi mudik terus, tiap 3 bulan aku & anak2 berlibur di Bandung. Bahkan anak2 libur cuma 3 hari pun, kami mudik.
2. Aku juga jarang berkumpul dengan A'Bubun, sejak pindah ke Singapura, frekuensi melanglangbuananya makin tinggi, jadi dia pun selalu mendukung kalau aku & anak2 sering mudik, karena Dzaky lebih memilih ke Bandung daripada ikut papapnya ke negara2 tempatnya berdinas.
3. Enam bulan pertama aku selalu sibuk berburu sale, jadi banci mal deh. Alasannya sederhana semua barang yg aku suka disini harganya relatif murah dibanding dgn barang yg sama di Indonesia, padahal belum didiscount. Tapi sesudah 6 bulan, baru sadar, untuk apa aku panik kalau ada sale, karena ternyata sale ada terus sepanjang tahun.
4. Teman2 pertamaku disini adalah istri dari teman2 kerja A'Bubun yg orang Indonesia dan direlokasi kesini.
5. Tagihan telepon di rumahku selalu tinggi, karena aku sering sekali telepon ke tanah air menggunakan sambungan langsung, belum tahu yg namanya calling card.
6. Sering ngebela2in pergi jauh untuk mencoba makanan2 khas Singapura yg halal.
7. Sering ngejar2 barongsai. Maksudnya sengaja mencari pertunjukan barongsai, lama2 bosen juga, karena ternyata sering ada & berisiknya minta ampun.

                            

Belajar Masak

Hari gini? Udah 12 tahun lebih menikah baru belajar masak? Sssst...plis dong ah...jangan digugat, ambil positifnya aja, bahwa A'Bubun begitu menyayangiku, hingga dia nggak rela istrinya berpeluh2 dan berbau2 di dapur. Bohong...! Bilang aja males! Iya...iya...ngaku, dari dulu PLRTku, si bibi keriting tercinta, yg udah sangat senior dan lumayan cepet nangkep kalo soal resep masakan, doilah yg memasak setiap hari. Sekarang...eng..ing..eng...asistenku 'kayak'nya belum pandai masak, jadi...pake jasa catering aja, itung2 bagi2 rejeki sama tukang catering 8-)).

Ceritanya nih...beberapa bulan terakhir ini, aku & temen2 seide (dalam hal masakan, bahan guyonan dan makan memakan) & rumahnya relatif berdekatan, sama2 east area, sering ngadain praktikum masak bersama. Caranya, salah 1 dari kita mraktekin 1 resep makanan di hadapan temen2 yg lain, bikinnya langsung buanyak, karena nanti hasilnya dibagi & dibawa pulang sama seluruh peserta. So far semua makanan yg dihasilkan sukses, artinya kalo nyoba masak sayur asem ya jadi sayur asem, bikin tiramisu ya jadi tiramisu, bikin apa aja jadi. Kayaknya yg paling penting sih resep & pembawanya bener dan nggak meragukan.

Tapi...kemaren nih...terjadi hal yg paling memalukan sedunia. Aku yg kalap lihat stok daun jati hasil impor dari Semarang punya Wanti, langsung usul untuk bikin pindang pisang. Waduh, yg namanya pindang pisang itu ya sodara2, uenak tenan. Pisangnya jadi warna merah kecoklatan (persis kayak pindang telur) karena dipindang bersama gula aren & daun jati, mateng tapi mengkal alias nggak benyek, karena...direndem dulu di air kapur sirih sebelum dipindang. Enaknya dimakan dingin (keluar dari kulkas), disiram santan kental. Mmmmm...nyemnyemnyem...

Dengan semangat 45 aku ngehasut Wanti yg peralatan masaknya tinggal you name it lah untuk rela jadi tuan rumah, kontak sana-sini, terhimpunlah 9 ibu2 yg semangat masak dan ngobrolnya tinggi. Devi & Sera mraktekin ayam gulai & sambel ijo...sukses! Aku, dengan modal rasa percaya diri yg tinggi mraktekin pindang pisang...gatot alias gagal total! Whoaaaaa...(nangis nih)...mengapakah baru kusadari kesalahan itu di saat aku sudah di jalan menuju rumah. Yah...kumat deh bahasa novel Marah Roesliku. Ternyata, hobi kukus-mengukus masakan (aku hobi bikin siomay bandung, pepes, dll yg serba dikukus) bikin aku latah. Pisang yg seharusnya dipindang (diungkep bareng gula aren & daun jati) malah dikukus...wadauw...ya nggak jadi dong mamee.

Eh, dalam keadaan stress dan malu, malem2 terima sms dari Wanti yg isinya "mamee, itu pisang gimana cara makannya?" Whoaaaaaaa...(nangis lagi & lebih keras).

Mohon maaf ya Wanti, Gita, Kendy, Sera, Emy, Ita, Devi, dan Ami yg udah datang dari jauh sambil bawa pisang yg segede2 gaban. Maaaaaf banget.

Mutiara2ku

Mutiara2ku, Dzaky Putra Wirahman, si sulung yg bulan September nanti genap 11 thn, Athaya Nadhira Wirahman, si tengah yg bulan November nanti genap 7 thn, Alita Khansa Wirahman, si bungsu yg bulan Maret tahun depan genap 3 thn. Ya...merekalah mutiara2ku. Aku sangat mencintai mereka dengan segala kelebihan dan kekurangan masing2.

Dzaky yg sangat percaya diri, memiliki sense of humor yg tinggi, gemar membaca, pemarah tapi sekaligus pandai membuat orang lain bahagia, tapi juga mulai sering membangkang seperti pada umumnya teenager...sangat sering memberi kejutan manis kepadaku melalui prestasi2 akademiknya...  Sore ini, sepulang sekolah, suaranya terdengar sangat riang."Assalamualaikum...!Mam, i have a good news" aku tersenyum sendiri menyaksikan itu, lucu, gate belum lagi kubuka tapi dia sudah 'ngobrol', "Wa'alaikumsalam...mama tahu, Mas Dzaky selalu memberi kabar yg baik koq, apalagi kalo suaranya kedengeran kayak gitu", jawabku sambil membukakan gate dan menyambut ciuman di tanganku olehnya, dan seperti biasa aku membalasnya dengan ciuman di pipinya. "Thanks mam, you're the best mother in the world", katanya dengan wajah ceria dan...mengedipkan sebelah matanya. Ya Allah, dia begitu tampan dan menyenangkan. "Mama, Mas Dzaky happy sekali hari ini, mama inget nggak sama composition yg Mas Dzaky bikin yg seminggu lalu disubmit lewat email ke Mrs.Teng?" katanya dengan mata berbinar2. "Ya, mama inget sekali" kataku."Yang judulnya The Ugly Dragon itu kan?" kataku sambil melepaskan tas punggung berat yg menggantung di pundaknya. "Tau nggak mam...composition itu terpilih untuk diikutkan ke competition dalam rangka peringatan 200 thn Hans Christian Andersen, the very famous author of children storybook. Mas Dzaky akan mewakili East Spring Primary School di competition itu" dia menyerocos seperti biasanya, dengan bahasa yg sudah campur aduk. "Ini ada consent form yg harus mama tandatanganin. Gimana mam? Are you happy?" tanyanya penasaran. Aku baca baik2 isi consent form itu yang isinya adalah meminta persetujuan orangtua dan ybs untuk menerbitkan karangan tersebut menjadi berupa buku kompilasi cerpen2 terbaik hasil karya anak2 SD dan SMP di Singapore. Perasaan bahagia, haru & bangga membuncah di dada. Kupeluk putra sulungku yg badannya sudah lebih besar dari aku, sambil kubisikkan , "Mama nggak hanya happy, Mas, tapi mama bangga sekali. Mama berharap akhlakmu bisa lebih bagus dari prestasimu ya, nak". Kami berpelukan, seperti biasanya saat kami sedang bahagia.

Athaya, putriku, anak keduaku. Dia sedang sibuk untuk membangun rasa percaya dirinya. Dia senang ber'kreasi' dengan apapun yg ada di rumah, sangat aktif bergerak, sudah pandai mematut diri, sangat haus perhatian. Sering kontradiktif, seringkali sangat ramah & penyayang, sama seringnya dengan sangat pemarah & penuntut. Maafkan mama nak, kalau mama mungkin kurang memperhatikanmu, sehingga kamu begitu haus untuk diperhatikan. Sore ini, beberapa menit setelah 'adegan' aku & Dzaky usai, dan setelah mengucapkan salam dan mencium tanganku, dia menyodorkan sehelai kertas folio yg lecek. "Mam, see...this is for you from me", aku ambil kertas itu, "Kakak, lain kali simpan kertasnya di file ya, supaya nggak kusut kayak gini", kataku sambil memperhatikan apa yg ada di kertas itu. Di kertas itu dia menggambar dengan pensil, gambar seorang wanita dengan tulisan "My Mommy" di atas kepalanya, lalu ada banyak bunga bertaburan di sekitarnya, yg paling menyentuh adalah tulisan di sebelah kanannya "I love to see your happy face everyday Mama". Tak sanggup menahan haru, aku peluk dan ciumi dia. "Mama, kakak ngegambar itu bukan waktu study koq, kakak ngegambar waktu recess. Tiba2 kakak keinget mama waktu mau recess, jadi pas abis kakak jajan, kakak ngegambar ini. Mama suka?" tanyanya dengan suara khasnya. "Mama nggak hanya suka, tapi mama bangga sekali" kataku, "bangga itu apa sih mam?" tanyanya sambil melepaskan sepatunya. "Bangga itu artinya i proud of you so much" kataku sambil melepaskan tas punggung berat yg menggantung di pundaknya. "Iya? Mama proud of me? I love you, mam" katanya sambil menghambur ke dalam pelukanku.

Alita, si bungsu yg sangat sadar bahwa anak bungsu selalu jadi pusat perhatian dan tumpuan kasih sayang terbesar. Sangat manja, ceriwis, genit seperti kakaknya (atau malah seperti ibunya juga ya...), senang belajar, menyanyi & menari. Siang ini, seperti rabu2 yg lain, aku bawa dia ke acara tahsinku. Tahsin hari ini diadakan di rumah Devi, cukup naik bis 1x dari depan blok tempatku tinggal. Sepanjang perjalanan, sekitar 8x pemberhentian, di dalam bis dia menyanyi terus dengan lantangnya "Twinkle twingkle little tas...dst" untuk kata star itu dia keukeuh pada 'tas'nya, sama sekali tidak mau direvisi. Jam 1.30 siang hari, mungkin orang sedang ngantuk2nya, jadi banyak yg menampakkan wajah kurang suka melihat dan mendengar begitu lucunya Alita menyanyi. Aku bujuk untuk bernyanyi pelan2 dia malah menjawab "Alita mau nyanyi happy" dengan lantangnya. Lucu, buat dia menyanyi happy artinya menyanyi keras2 pertanda dia lagi happy. Terpaksa aku tebal2kan muka selama perjalanan di bis itu.

Ya Allah, puji syukur kupanjatkan kepadaMU atas anugerah berupa mutiara2 indah ini. Bimbinglah aku ya Allah agar bisa memelihara dan menjaga amanatMU ini dengan baik, sehingga mereka bisa tumbuh menjadi insan kamil. Amin.

Belajar Mengerti

Percakapan melalui sms dengan A, teman baik yg kebetulan anggota Darma Wanita RI di Singapura pada hari Kamis sore, 28 Juli 2005.

A      :  Mbak Wiwie, tanggal 21 Agustus ada bazaar lho di KBRI. Mau ikutan nggak?

Aku   :  Wah, tawaran menarik. Gimana Caranya?

A      :  Mbak Wiwie hubungi aja Mbak B di nomor 9xxxxxxx

Aku   :  Ok. Tx ya jeng

Percakapan melalui telepon dengan Mbak B pada Minggu sore, 31 Juli 2005

Aku   :  Selamat sore Mbak B, saya Wiwie, temannya A. Saya berminat untuk    

           berpartisipasi dalam acara bazaar yg diadakan di KBRI dlm rangka 17-an.

           Saya dapat informasi dari teman saya, A, untuk menghubungi Mbak bila    

           mau berpartisipasi di bazaar tsb.

Mb B :  Anda mewakili siapa?

Aku   :  (bingung sendiri dengan maksud pertanyaan tsb) Saya saat ini mewakili

           diri sendiri sebagai WNI yg tinggal di Singapura. Tapi dalam bazaar nanti saya akan

           berjualan dengan ibu2 lain dari IndoSing-Mums.

Mb B  :  IndoSing-Mums? Apa itu?

Aku    :  Oo...itu nama milis ibu2 Indonesia yg tinggal di Singapura.

Mb     :  Maksud saya, dari instansi mana?

Aku    :  (pura2 nggak ngerti) Kebanyakan kami adalah ibu rumahtangga yg

             mendampingi suami yg bekerja disini sebagai profesional.

Mb     :  Ooo....swastaaa... Kalau ke swasta kami menjual meja. 1 meja $450.

Aku    :  (menahan sekuat tenaga nafsu untuk berdebat) Mahal sekali? Nggak sesuai

             dengan omsetnya dong Mbak.

Mb B  :  Ya...gimana ya, soalnya bazaar ini diprioritaskan untuk ibu2 Darma

            Wanita. Memangnya mau jual apa?

Aku    :  Saya & teman2 Insya Allah mau menjual mie ayam, macam2 finger food,

            es tel...(nggak selesai keburu dipotong).

Mb B   :  Es nggak boleh.

Aku     :  Kenapa?

Mb B    :  Sudah ada yg jual minuman, itu jatah Darma Wanita KBRI.

Aku      :  O..gitu ya. Ya sudah, kalau begitu saya bicarakan dulu dengan teman2

              tentang kondisinya, kalau kami jadi berpartisipasi, saya hubungi lagi

              Mbak. Terima kasih. Selamat sore.

Percakapan melalui telepon dengan A sesaat setelah percakapan dengan Mbak B selesai.

Aku      :  Mengganggu nggak nih jeng? Aku mau minta tolong.

A         :  Nggak sama sekali. Ada apa Mbak?

Aku      :  Anu jeng, untuk bazaar itu ternyata yg diprioritaskan adalah ibu2 Darma

              Wanita. Aku dkk dianggap swasta, jadi dikenai charge $450.

               Aih...manalah aku mampu untuk membayar (pakai logat batak)? Nah,

              dirimu kan Darma Wanita, pakailah fasilitasnya.

A          :  Aduh...aku...jualan? Nggak bisa!

Aku       :  Nggak usah jualan, cukup ambil jatahnya, aku dkk yg menggunakan.

A          :  Oke

Aku       :  Tengkyu jeng.

Percakapan dengan A melalui sms hari Senin, 1 Agustus 2005

Aku       :  Jeng, Insya Allah tgl 21/8 nanti bakal dpt mie ayam, siomay bandung,

                lemper, mipaw (moga nggak salah nulisnya), dll msg2 1 porsi, gratis.

                Itu dagangan kita lho. Stand udah confirm kan? Krn terdaftar a.n. jij,

                tolong aku diupdate trs ya ttg status & kondisi stand, spy persiapan

                kita matang ;-) sekali lagi tx ya jeng.

A          :   Meja udah ada tp kecil dan dipepet2in krn udah banyak yg jualan,

                pura2nya aku yg jual mie ayam Mb Wiwie nambahin kue2 ya...

                Mb Wie, yg jual siomay udah ada, biasanya nggak boleh double.

Aku        :  Tenang aja jeng, dagangan utama kita kan mie ayam dan finger food.

                Wkt thn 2003 aku ikutan jualan juga, banyak koq yg dagangannya sama.

                 Jadi bilang ke panitia sih mie ayam dulu aja. Gimana?

A            :  Oke

Aku         :  Great! Sukses ngelobi panitianya ya jeng.

Sulit aku mengerti, kenapa para ibu Darma Wanita itu seolah merasa punya posisi yg lebih tinggi daripada ibu2 non Darma Wanita? Padahal...KBRI kan milik seluruh rakyat Indonesia? Mengapa orang2 pemerintahan & keluarganya hampir semua arogan dimana saja? Atau karena kata "pemerintah" itulah yg menjadi tulah buat bangsa Indonesia? PEMERINTAH, kata dasarnya perintah, diberi sisipan "em", jadi artinya orang yang memberi perintah. Bah! Salah kaprah...salah kaprah...! Bagaimana mereka tidak arogan...lha wong predikatnya aja udah gitu! Harusnya para penyelenggara negara itu disebut "penyelenggara" atau "pelayan masyarakat" aja, biar mereka selalu tersadar, bahwa jabatan mereka itu mandat dari rakyat dan mereka dibayar oleh rakyat untuk melayani rakyat!

Tambah nggak ngerti lagi, untuk jualan di acara bazaar aja mereka nggak berani bersaing. Buktinya nggak boleh ada dagangan yg sama. Payah...kapan mau majunya bangsa kita, lha wong para penyelenggara negaranya aja mengharamkan persaingan sekecil apapun. Payah..."moal maju-maju...3x" (kutipan bait terakhir lagu Garuda Pancasila yg dipelesetkan oleh almarhum Kang Harry Roesli).

Ngedumel kan bukan bagian dari solusi...udah ah...mau merenung aja kalo gitu, berusaha mengerti mengapa begini mengapa begitu atau malah lebih bagus kalo berusaha mengerti bagaimana caranya supaya begini atau begitu....

Ibu Efektif

Ibu efektif? Kapan ya aku bisa jadi ibu efektif? Ibu yg bisa mengasuh dan membimbing anak2nya dengan baik. Ibu yg bisa menyediakan kebutuhan primer anak2nya dengan baik. Ibu yg bisa menjadi teladan buat anak2nya.

Kenapa itu semua cuma jadi pertanyaan di kepala selama hampir 11 tahun? Btw Dzaky kan bakal berumur 11 thn bulan September nanti. Aku masih kayak gini. Ibu yg mengasuh & membimbing anak2 seringkali dengan amarah, aku yg seringkali bermalas2an dan terhenyak manakala tiba waktu untuk melayani mereka. Hey...where have you been Wiwie?

Belajar nge-Blog

Bismillahirrahmaanirrahiimi...

Betul2 harus pake doa kali ini, supaya nggak wafat lagi seperti blog-ku yg di blogspot. Sedih, tapi itu terjadi karena ke-gaptek-an dan kemalesanku untuk belajar cara nge-blog. Huaaahhh...ternyata aku males berproses. Belajar dong...belajar! Katanya nge-blog di Friendster is the simplest way to blogging, makanya aku mau bikin blog disini.

Many thanks untuk OneTea yg udah meng-encourage aku abis2an untuk bikin blog di Friendster. Juga untuk Mela, Febi, Kandy, Hany, Gita, Ellen, Rani, Lia yg blognya selama ini sering banget aku intipin. Begitulah...saking nggak pedenya di dunia per-blog-an, aku nggak berani ninggalin comment sedikit pun. Kesempatan, sekarang waktunya minta maaf sekalian terimakasih, karena ngintipin blog kalianlah aku jadi merasa semangat & terinspirasi untuk bikin blog juga. Bantuin aku ya untuk jadi blogger yg baik & bermanfaat.

My Photo

February 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29  
Powered by Friendster Blogs